Rabu sore, 15 April 2009, langit kabupaten bekasi diwarnai pelangi. Pelangi perasaan peserta yang mengikuti seleksi Olimpiade Sains tingkat SMA/sederajat. Ada yang senang karena dapat melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu provinsi. Namun ada juga yang belum berhasil. Bagi saya, ini pertama kalinya saya melaksanakan olimpiade bukan di kota kelahiran saya, Cirebon. Sedikit ada yang berbeda rasanya.
Pagi-pagi sekitar pukul 6, 23 jagoan SMA Presiden (termasuk saya tentunya) sudah bangun untuk makan pagi dan berangkat ke tempat lomba, SMA Negeri 1 Tambun Selatan. Berdoa menjadi bagian terpenting untuk mengawali pertandingan nan akbar itu. Macet dan panas mewarnai perjalanan kami.
Kami sampai di sana tepat waktu. Tepat sebelum Apel Pembukaan. Upacara berlangsung tenang (hanya sedikit gangguan karena pemimpin pasukan yang sangat “tipis”). Kepala Dinas yang sedang sakit menyempatkan diri menyampaikan pesan-pesannya.
Tak lama kemudian bel berbunyi menandakan semua peserta harus siap menerima semua soal yang ada. Deal or no deal itulah kenyataannya. Peraturan dibacakan, soal dibagikan, dan…
3
2
1
FIGHT!!!
Semua mengerjakan soal dengan tenang (termasuk saya tentunya).
Susah?? Tentu.
Namun, tidak ada keluh susah terlihat di wajah peserta lain. Tentu saya panik melihat keadaan itu. “Buset… nih orang-orang jago-jago banget yaaa!?”. survey pada 1 orang menyatakan bahwa soal tahun ini jauh lebih gila, lebih parah, lebih ruwet, lebih susah, lebih dari dan tidak sama dengan tahun lalu.
Dua jam tidak terasa. Semua peserta wajib, mesti dan kudu menyerahkan jawaban dan soal kepada pengawas. Semua peserta keluar ruangan dengan tertib dan berharap-harap Tyas (eh… Harap-harap cemas ding).
Sekitar 6 jam menunggu, akhirnya apel penutupan sekaligus pengumuman yang ditunggu-tunggu dilaksanakan juga. Semua peserta kembali berbaris dan Pemimpin pasukan yang tipis itu kembali memunculkan taringnya untuk mengatur barisan. Pengumuman itu merupakan kesenangan bagi sebagian siswa dan kekecewaan bagi sebagian yang lain. Di umumkanlah 48 pejuang yang akan melanjutkan pemikiran mereka di tingkat provinsi (termasuk saya tentunya).
Beberapa teman saya seperti Febrian, Ade dan kak Irul mendapat peringkat pertama dalam seleksi itu (termasuk saya tentunya) dan beberapa lagi seperti Cindy dan Kak Fira berturut-turut mendapat Harapan 3 dan 1 di Matematika, kak Billy mendapat Harapan 2 di Fisika, Shaine mendapat Harapan 2 di Biologi, Kak Feri mendapat Harapan 1 di IT, Kak Mirna mendapat Juara 3 di Astronomi, dan Kak Felix mendapat juara 2 di Geosains.
Langit di tempat itu menjadi bersinar di tempat itu untuk 48 orang yang lolos (termasuk saya tentunya) dan menjadi sedikit kelabu bagi yang belum berhasil.
Jangan terlalu menyesali bagi yang belum berhasil karena sesungguhnya semua yang mengikuti kompetisi itu adalah yang terbaik.
Kami dari SMA Presiden (termasuk saya tentunya) langsung pulang kembali ke kehidupan asrama yang flat tapi seru. dan miungkin ini terakhir kalinya saya mengucapkan “termasuk saya tentunya” karena semua orang disini (termasuk saya tentunya) sedang ngantuk-ngantuknya.
Destra BP (Bukan Picil).
